Bahasa Jurnalistik


Menulis Ringkas dan Jelas
Terkecuali dimaksudkan untuk kalangan terbatas, sebuah buku atau artikel yang diterbitkan harus ditulis dengan bahasa yang efisien: hemat (ringkas) dan jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap penulis, dan lebih penting lagi buat editor.
                                                               HEMAT
Penghematan diarahkan ke penghematan ruang dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua tingkat:
(1) unsur kata
(2) unsur kalimat
                                                  Penghematan Unsur Kata
Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti.
      Misalnya:
      agar supaya    .................  agar atau supaya
      akan tetapi     .................   tapi
      apabila          .................   bila
      sehingga        .................   hingga
      meskipun       .................   meski
      walaupun       .................   walau
      tidak              .................   tak (kecuali diujung kalimat atau berdiri sendiri).

Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
      Misalnya:
      ''Keadaan sekarang lebih baik dari pada zaman Orde Baru'', menjadi ''Keadaan
       sekarang lebih baik dari zaman Orde Baru''. Tapi mungkin masih janggal
       mengatakan: ''Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang''.
Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek.
      Misalnya:
      kemudian = lalu
      makin = kian
      terkedjut = kaget
      sangat = amat
      demikian = begitu
      sekarang = kini
Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.

                                                   Penghematan Unsur Kalimat:
Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat.
      Misalnya:
      - ''Adalah merupakan kenyataan, bahwa korupsi sudah merajalela di negeri ini''.
         (Bisa disingkat: ''Merupakan kenyataan, bahwa ................'').
      - ''Apa yang dinyatakan Presiden Yudhoyono sudah jelas''.
         (Bisa disingkat: ''Yang dinyatakan Presiden Yudhoyono...........'').
Pemakaian apakah atau apa (pengaruh bahasa daerah) sebenarnya bisa ditiadakan:
      Misalnya:
      - ''Apakah Amien Rais akan memenangkan pemilihan presiden''?
         (Bisa disingkat: ''Akankah Amien Rais.....'').
      - Harus kita selidiki, apa(kah) dia berbohong atau tidak''.
        (Bisa disingkat: ''Harus kita selidiki, dia berbohong atau tidak'').
Pemakaian dari sebagai terjemahan of (Inggris) dalam hubungan milik sebenarnya bisa ditiadakan; juga daripada.
      Misalnya:
      - ''Dalam hal ini bantuan dari Pemerintah diperlukan''.
         (Bisa disingkat: ''Dalam hal ini bantuan Pemerintah diperlukan''.
      - ''Busi adalah bagian daripada mesin''.
         (Bisa disingkat: ''Busi adalah bagian mesin'').
Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:
      Misalnya:
      - ''Indonesia cenderung untuk mengakui hak-hak Palestina''.
          (Bisa disingkat: ''Indonesia cenderung mengakui............'').
      - ''Pendapat semacam itu sulit untuk diterima''.
          (Bisa disingkat: “Pendapat semacam itu sulit diterima'').
      - ''Astra dan Indomobil bersetuju untuk meningkatkan kualitas produk''.
         (Bisa disingkat: ''Astra dan Indomobil bersetuju meningkatkan.......'').
Catatan: Dalam kalimat: ''Mereka setuju untuk tidak setuju'', kata untuk demi kejelasan dipertahankan. Pemakaian adalah sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu:
      Misalnya:
      - ''Pepaya adalah buah yang enak''.
         (Bisa disingkat ''Pepaya buah yang enak'').
Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu.
      Misalnya:
      - ''Presiden besok akan meresmikan pabrik tapioka''.
          (Bisa disingkat: ''Presiden besok meresmikan pabrik.........'').
      - ''Tadi telah dikatakan ........''
          (Bisa disingkat: ''Tadi dikatakan.'').
      - ''Kini Peterpan sedang sibuk mempersiapkan konser''.
          (Bisa disingkat: ''Kini Peterpan sibuk mempersiapkan konser'').
Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan.
     Misalnya:
     - ''Ketua Partai Golkar membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia
         melakukan korupsi''.
     - ''Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang bersalah''. (Bisa disingkat:
       ''Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang bersalah''.)
Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu. 

Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang-kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.
      Misalnya:
      - ''Kita harus menjadi tetangga yang baik dari orang Madura''.
         (Bisa disingkat: ''Kita harus menjadi tetangga baik orang Madura'').
      - ''Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia''.
Pembentukan kata benda (ke + ..... + an atau pe + ........ + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, sering, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata mubazir.
      Misalnya:
      - ''Tanggul Bendungan Jatiluhur kemarin mengalami kebocoran''.
        (Bisa diubah: '' Tanggul Bendungan Jatiluhur kemarin bocor'').
      - ''Pertamina menderita kerugian Rp 300 miliar''.
        (Bisa diubah: ''Pertamina rugi Rp 300 miliar'').
      - ''Ia telah lima kali melakukan pembunuhan''
        (Bisa disingkat: ''Ia telah lima kali membunuh'').
      - PDI Perjuangan sedang memikirkan untuk mengadakan peremajaan dalam
         tubuh partai''.
        (Disingkat: ''PDI Perjuangan sedang memikirkan meremajakan tubuh partai'').
Penggunaan kata sebagai dalam konteks ''dikutip sebagai mengatakan'' (dari bahasa Inggris''quoted as saying'') bisa dihilangkan.
       Misalnya:
       - ''Dirjen Pariwisata dikutip sebagai mengatakan......''
           Bisa ditulis: ''Dirjen Pariwisata dikutip mengatakan...........''.
Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Dimana sebagai kata ganti penanya yang berfungsi sebagai kataganti relatif muncul dalam bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat. Juga kata pada siapa, dengan siapa.
      Misalnya:
      - ''Rumah dimana saya diam'' (dari ''The house where I live in'')
          Bisa diubah: ''Rumah yang saya diami''.
      - ''Negeri dimana ia dibesarkan''
          Diubah: ''Negeri tempat ia dibesarkan''.
      - ''Orang pada siapa dia bertanya''
          Bisa diubah: ”Orang tempat ia bertanya.”
      - ''Orang dengan siapa dia berbicara''
          Bisa diubah: ”Orang teman ia bicara.”
Kata dimana sering dipakai secara tidak tepat sebagai kata sambung.
      Misalnya:
      ''Pihak Kejaksaan Agung dewasa ini sedang menggarap tujuh buah perkara tindak pidana korupsi,      
       dimana ke-tujuh buah perkara tersebut sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya masih dalam  
       pengusutan.''
       Bisa diringkas dan dipecah menjadi dua kalimat pendek:
      ”Kejaksaan Agung sedang menggarap tujuh perkara korupsi.
        Sebagian perkara sudah dalam tahap penuntutan.”
                                                  (Kata buah, butir yang menjadi penunjuk-jenis sering bsia dihilangkan)
Dalam beberapa kasus, kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain sesudahnya juga bisa ditiadakan, asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis).
       Misalnya:
       - ''Bukan kebetulan jika polisi mencurigai preman pasar itu. Sebab dia sudah dua kali masuk penjara''.
       - ''Pelatih Manchester United mengakui kekurangan-kekurangan di bidang logistik anak-anak asuhnya.   
           Kemudian ia juga menguraikan perlunya perbaikan gizi pemain”.
                                              (Kata sebab dan kemudian pada awal kalimat kedua bisa ditiadakan:
                                                hubungan kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas).
Tak perlu diuraikan lebih lanjut, bahwa dalam hal hubungan kausal dan kronologi saja kata yang  berfungsi menyambung dua kalimat yang berurutan bisa ditiadakan. Kata tapi, walau atau meski yang mengesankan ada yang yang mengesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.


                                                                  JELAS
Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
1. Penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham atau belum yakin benar 
    akan pengetahuannya sendiri.
2. Penulis harus punya kesadaran tentang pembaca. 
    
Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti juga menguasai bahan penulisan secara sistematik. Ada orang yang sebetulnya kurang bahan (baik hasil pengamatan, wawancara, hasil bacaan, buah pemikiran) hingga tulisannya cuma mengambang. Ada orang yang terlalu banyak bahan, hingga tak bisa membatasi dirinya: menulis terlalu panjang. Terutama dalam penulisan populer, tulisan kedua macam orang itu tak bisa dipakai. Sebab penulisan ini harus disertai informasi faktuil atau detail pengalaman dalam mengamati, berwawancara dan membaca sumber yang akurat. Juga harus dituangkan dalam waktu dan ruangan yang tersedia. Lebih penting lagi ialah kesadaran tentang pembaca.

Sebelum kita menulis, kita juga harus punya bayangan (sedikit-sedikitnya perkiraan) tentang pembaca kita: Sampai berapa tinggi tingkat informasinya? Bisakah tulisan saya ini mereka pahami?

Satu hal yang penting sekali diingat: tulisan kita tak hanya akan dibaca seorang atau sekelompok pembaca tertentu saja, melainkan oleh suatu publik yang cukup bervariasi dalam tingkat informasi. Pembaca harian atau majalah kita sebagian besar mungkin mahasiswa, tapi belum tentu sebagian besar mereka tahu apa dan siapanya Goenawan Mohamad atau Ahmad Syafii Maarif.
Menghadapi soal ini, pegangan penting buat penulis ialah: buatlah tulisan yang tidak membingungkan orang yang yang belum tahu, tapi tak membosankan orang yang sudah tahu. Ini bisa dicapai dengan praktek yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.

Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:
• tanda baca yang tertib.
• ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan baku.
• pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea. Karena bukan tempatnya di sini untuk berbicara 
  mengenai komposisi, cukup kiranya ditekankan perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran 
  dalam menulis, hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang kesana-
  kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari hal-hal yang perlu dan 
  relevan.

Menuju kejelasan bahasa, ada dua tingkatan yang perlu mendapatkan perhatian:
1. unsur kata.
2. unsur kalimat.

Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini terlalu banyak dan deras arus istilah-istilah asing
dalam dunia penulisan kita. Misalnya: income per capita, Save the Nation, project officer, floating mass, program-oriented, floor-price, upgrading, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi.

Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak.

Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module, drive-in, fast-food, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau begitu, ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya fast-food dengan ''cepat saji'') tetap perlu.

Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya orang Indonesia kini bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat.

Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. ''Hankam'', ''Bappenas'', ''Humas'' memang lebih ringkas dari ''Pertahanan & Keamanan'' ''Badan Perencanaan Pembangunan Nasional'', dan ''Hubungan Masyarakat''. 

Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat: ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yang membuat akronim untuk
bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di kalangan remaja sehari-hari: ''ortu'' untuk ''orang tua''; atau di pojok koran: ''keruk nasi'' untuk ''kerukunan nasional'') tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik (misalnya ''Manikebu'' untuk ''Manifes Kebudayaan'').

Bahasa jurnalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga  akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya ''Jagung'' untuk ''Jaksa Agung'', ''Gepeng'' untuk ''Gelandangan dan Pengemis''.

Tidak ada batas yang tegas akronim mana saja yang bisa dipakai dalam bahasa pemberitaan atau tulisan dan mana yang tidak. Tapi, perlu diingatkan: akronim akhirnya bisa mengaburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan, hingga baik yang mempergunakan ataupun yang membaca dan yang mendengarnya bisa terlupa akan isi semula suatu akronim. Kita makin lama makin alpa buat apa merenungkan kembali makna semula sebelum kata-kata itu diakronimkan. Sikap analitis dan kritis kita bisa hilang terhadap kata berbentuk akronim itu, dan itulah sebabnya akronim sering dihubungkan dengan bahasa pemerintahan totaliter. 

Tapi seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat.

Pada dasarnya setiap kalimat yang amat panjang, lebih dari 15-20 kata, bisa mengaburkan hal yang lebih pokok, apalagi dalam bahasa jurnalistik. Itulah sebabnya penulisan lead (awal) berita sebaiknya dibatasi hingga 13 kata. Bila lebih panjang dari itu, pembaca bisa kehilangan jejak persoalan. Apalagi bila dalam satu kalimat terlalu banyak data yang dijejalkan.
      Misalnya:
      ''Sehubungan dengan berita koran ini pada tanggal 25 November 2005 hari Kamis berjudul: ''Tanah  
       Kompleks Alas Tlogo dijadikan Objek Bisnis' (berdasarkan keterangan pers dari Ahmad Sudiro, Ketua  
       Dewan Nahdlatul Ulama Cabang Pasuruan, Jawa Timur) maka pada tanggal 28 November yang baru 
       lalu di Balai Kota Pasuruan tersebut telah diadakan pertemuan antara pihak Dankomar (Komandan 
       Korps Marinir), pimpinan Koarmabar (Komando Armada Barat) dan ulama Pasuruan yang mewakili 
       masyarakat Alas Tlogo dengan maksud untuk mengadakan 'clearing' terhadap berita itu.''

        Perhatikan: Kalimat itu terdiri dari 60 kata lebih. Sebagai pembaca, kita memerlukan dua kali mem-
        bacanya untuk memahami yang ingin dinyatakan sang wartawan. Pada pembacaan pertama, saya ke-
        hilangan jejak perkara yang disajikan di hadapan saya. Ini artinya suatu komunikasi cepat tak tercapai. 
        Lebih ruwet lagi soalnya jika bukan saja pembaca yang kehilangan jejak dengan dipergunakannya  
        kalimat-kalimat panjang, tapi juga si penulis sendiri.

''Selama konser tersebut sambutan masyarakat setempat di mana mereka mengadakan pertunjukan mendapat sambutan hangat.''
      Perhatikan: Penulis kehilangan subjek semula kalimatnya sendiri, yakni sambutan masyarakat setempat.   
      Akibatnya kalimat itu berarti, ''yang mendapat sambutan hangat ialah sambutan masyarakat setempat.''

Tidak ada komentar:

Posting Komentar