linguistik


1.        Pengertian

Linguistik berarti ilmu bahasa. Kata  linguistik berasal dari kata Latin lingua= bahasa. Sesuai dengan asal Latin/Roman itu, maka ilmu Linguistik dikenal sebagai Linguistics dalam bahasa Inggris, dan sebagai linguistique dalam bahasa Perancis. Bentuk Indonesia dari istilah tersebut ialah linguistik. Kata linguistik itu sebaiknya dipakai sebagai kata benda saja, dan kata sifatnya adalah linguistis.
Ferdinand  de Saussure, seorang sarjana Swiss, dianggap sebagai pelopor lingustik modern. Bukunya Cours de lingisticue generale (1916) sangat terkenal dan dianggap sebagai dasar linguistik modern. Oleh sebab itu beberapa istilah yang dipakai Saussure diterima umum sebagai istilah resmi, misal langage, langue dan parole. Langage berarti bahasa pada umumnya, seperti ucapan “manusia mempunyai bahasa, binatang tidak mempunyai bahasa”.
Langue selalu berarti bahasa tertentu, misal bahasa Prancis, bahasa Indonesia, bahasa Sunda, dsb. Kata Inggris language tidak begitu jelas artinya, karena meliputi apa yang dalam bahasa Prancis disebut langage maupun langue. Kata Prancis parole (Inggris: speech) berarti logat, ucapan, perkataan.
Seorang ahli linguistik bisa disebut linguis dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan kata Inggris linguist.
Ada beberapa kesulitan dengan kata sifat linguistic dalam bahasa Inggris. Pertama-tama ada sebutan linguistic analysis, yang dapat berarti dua: (1) analisis linguistis, artinya analisis menurut ilmu linguistik, (2) analisis falsafi berdasarkan bahasa biasa, sesuatu aliran filsafat modern yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan linguistik sebagai ilmu bahasa.
Masih banyak yang dapat diuraikan mengenai kata-kata yang berarti bahasa dalam pelbagai bahasa. Kata glotta dalam bahasa Yunani Kuno tidak hanya berarti pemakaian bahasa, tetapi pula menyatakan tingkah laku (pada umumnya); demikian pula kata Indonesia biasa diartikan sopan santun.

2. Linguistik Umum
Ilmu linguistik sering pula disebut linguistik umum. Artinya linguistik tidak hanya menyelidiki suatu langue tertentu tanpa memperhatikan ciri-ciri bahasa lain. Umpamanya sulit bagi kita memahami morfologi bahasa Indonesia, kalau tidak kita pahami ciri-ciri morfologi bahasa lain.    
Memang morfologi bahasa Indonesia seharusnya dianalisis hanya dengan bahan dari bahasa Indonesia, tetapi bahan itu saja tidak memberikan pengertian kepada kita bagaimana struktur morfologi pada umumnya. Dengan perkataan lain, para sarjana linguistik tidak hanya  menyelidiki salah satu langue saja, tetapi juga tempatnya di dalam langage.
Maka dari itu linguistik itu tidak dapat disamakan  dengan apa yang disebut anglistik, romanistik, germanistik, atau slavistik. Sebaliknya, kita tidak dapat menguasai bidang-bidang tersebut tanpa pengetahuan linguistik walaupun sedikit. Dalam bidang-bidang itu selalu ada pandangan-pandangan tertentu tentang langage, atau bahasa pada umumnya, walaupun secara teoritis tidak mutlak perlu selalu eksplisit.
Pendeknya, lingustik harus umum. Dalam masing-masing bahasa ada ciri tertentu yang terdapat pula dalam bahasa-bahasa yang lain. Setiap linguis harus menguasai, sekurang-kurangnya secara reseptif satu atau lebih baik beberapa bahasa lain selain bahasanya sendiri; lebih baik lagi kalau salah satu dari bahasa lain yang dikuasainya itu tidak serumpun dengan bahasanya sendiri.

3. Linguistik sebagai ilmu pengetahuan spesifik

Sebagaimana kita ketahui ada bermacam-macam ilmu pengetahuan, misalnya ilmu pengetahuan hukum, ilmu pasti dan alam, psikologi, sosiologi, dan sebagainya. Bahasa itu dapat diselidiki oleh banyak ilmu. Umpamanya seorang ahli teknik telekomunikasi dapat menyelidiki bunyi-bunyi bahasa dengan metode ilmu teknik, misalnya dengan tujuan memperbaiki teknik telepon; atau seorang ahli psikologi dapat menyelidiki peranan bahasa dalam hubungan-hubungan antarpribadi. Demikian pula, dengan perspektif khusus, atau spesifik bagi bidang ilmu masing-masing, pelbagai ahli dapat mengarahkan minatnya pada bahasa, dan menyelidikinya dari sudut masing-masing.
Adalah wajar bila timbul pertanyaan: apakah semuanya itu termasuk dalam linguistik? Pasti tidak. Kalau begitu, maka apakah sebenarnya yang khusus, atau spesifik, dalam linguistik itu?
Seorang ahli sosiologi misalnya memang dapat menyelidiki bahasa, tetapi hanya dari sudut sosial. Demikian pula seorang ahli psikologi, tetapi dari sudut (mis.) motivasi manusia saja. Mereka semua menyelidiki bahasa bukannya sebagai bahasa, melainkan bahasa sebagai manifestasi dari sesuatu yang lain. Yang spesifik dalam ilmu linguistik ialah bahwa penyelidikan menyangkut bahasa sebagai bahasa. Prinsip tersebut memang cukup umum diakui, namun secara praktis sering terdapat perbedaan pandangan mengenai apa sebenarnya yang menjadi kekhusuan ilmu linguistik; hal ini disebabkan oleh karena adanya banyak pertindihan di antara masing-masing ilmu pengetahuan empiris (dan filsafat). Yang penting bagi kita sekarang adalah mengingat bahwa prinsip tadi dianggap berlaku umum.

4. Objek Linguistik
                                       
     Yang jelas sampai sekarang ialah bahwa obyek linguistik itu adalah bahasa. Akan tetapi pengertian kata “bahasa” itu belum tentu jelas. Oleh karena itu, perlu kita batasi sebagai berikut:
(a)           “Bahasa” dalam pengertian kiasan; misalnya dalam ucapan “bahasa dansa", “bahasa alam”, dan sebagainya.
(b)           “Bahasa” dalam pengertian “harafiah”. Dalam pengertian demikian kita harus membedakan langage, langue, dan parole.
Dalam pengertian (b) sajalah bahasa itu menjadi objek linguistik. Di samping itu kita juga membedakan bahasa lisan dan bahasa tulisan. Bahasa tulisan boleh disebut “turunan” dari bahasa lisan. Bahasa lisan merupakan objek primer ilmu linguistik, sedangkan bahasa tulisan merupakan objek sekunder linguistik. Bahasa tulisan atau “ortografi” (Ingr. Orthography, dari kata Yunani orthos ‘tepat’, dan grapheinmenulis’) pada umumnya tidak merupakan representasi langsung dari bahasa lisan, dan justru di sinilah ada banyak masalah yang pantas diselidiki oleh ahli linguistik. Yang penting di sini ialah bahwa setiap bahasa terdapat dalam bentuk yang sesungguhnya dalam “berbicara” dan”mendengarkan”, dan hanyalah secara sekunder saja dalam “menulis” dan “membaca”. Maka dari itu parole itu pertama-tama terdapat secara lisan, hanya secara sekunder tertulis.
Akhirnya perlu kita bertanya bagaimana langage, langue dan parole dibedakan sebagai objek linguistik. Parole itu merupakan objek konkrit untuk ahli linguistik, bagaikan bahan “mentah”, langue itu adalah objek yang sudah sedikit abstrak; yang paling abstrak itu adalah langage.
Harus diperhatikan bahwa menguasai (dalam arti memakai secara lancar) suatu bahasa tidak sama dengan mampu menerangkan kaidah-kaidahnya. Juga belajar suatu bahasa tidak sama dengan belajar tentang bahasa. Jadi kita menguasai bahasa Indonesia, tetapi tanpa studi khusus kita tidak dapat  menerangkan tata bahasa Indonesia. Dengan perkataan lain, apa yang kita kuasai (yakni bahasa Indonesia sebagai langue) memang merupakan objek penyelidikan linguistis terhadap bahasa Indonesia, tetapi cara menguasai bahasa tersebut bukanlah objek ilmu linguistik. Kalau begitu, apakah fungsi penguasaan suatu bahasa dalam penyelidikan  linguistis ? Penguasaan merupakan titik tolak dari penyelidikan, karena kita tahu secara intuitif apakah suatu contoh dari parole betul atau salah. Misalnya bila ada orang berkata *Kucing itu mengejar besar tikus, serta-merta kita tahu bahwa kalimat itu salah; bukan karena orang itu tidak menguasai bahasa Indonesia, melainkan mungkin karena salah ucap, mungkin karena ia lelah, atau mungkin karena ia kurang memperhatikan apa yang dikatakannya.

Dengan perkataan lain, parole-lah objek linguistik yang konkrit. Menguasai suatu bahasa diperlukan untuk membedakan nama di antara ujaran yang kita kumpulkan tepat dan mana yang tidak; dari ujaran yang tepat kita simpulkan apa yang berlaku untuk langue dan kaidah-kaidahnya. Lalu bila kita sadari bahwa dalam macam-macam langue ada sesuatu yang umum, maka kita mencoba merumuskan yang umum itu sebagai penyelidikan langage.
 Memang dalam hal ini masih banyak soal yang belum dipecahkan ahli-ahli linguistik. Uraian dalam pasal ini hanya dimaksudkan untuk menolong agar hubungan-hubungan antara langage, langue, dan parole dapat dipahami lebih baik. Dalam hal ini kita boleh tersesat oleh pandangan-pandangan popular tentang bahasa.

5. Catatan mengenai istilah “filologi”

Sebelum Saussure, dan juga sesudahnya, istimewa di Inggris, ilmu bahasa lazim disebut “filologi” (Inggr. Philology; Prancis philology). Sebabnya ialah bahwa dulu, terutama dalam abad ke-19, para ahli bahasa sering menyelidiki masa lampau dari bahasa-bahasa tertentu (Inggris, Jerman, Latin, dsb.) dengan tujuan untuk menafsirkan naskah-naskah kuno. Para sarjana bahasa pada jaman itu menyelidiki pula hubungan yang bermacam-macam di antara bahasa-bahasa serumpun (khususnya bahasa-bahasa Indo-Eropa).
Dewasa ini filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari sesuatu bahasa berdasarkan dokumen-dokumen tertulis. Walaupun para ahli filologi sekarang menyadari bahwa pengetahuan sedikit tentang linguistik dapat menjadi bantuan penting dalam bidang mereka, namun sudah menjadi pengertian bersama bahwa filologi tidak sama dengan linguistik. Jadi ahli bahasa Jawa kuno misalnya tak perlu menjadi spesialis linguistik; sebagai ahli filologi cukuplah ia.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar