Minggu, 13 Januari 2013

Sejarah perkembangan ilmu bahasa


A.      PERKEMBANGAN ILMU BAHASA DI DUNIA BARAT

Sejarah perkembangan ilmu bahasa di dunia Barat dimulai abad IV SM. Asal muasalnya seorang ahli filsafat bangsa Yunani Kuno bernama Plato (429 SM – 348 SM) menelorkan pembagian jenis kata bahasa Yunani Kuno dalam kerangka telaah filsafatnya. Plato membagi jenis kata bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yakni onoma dan rhemaOnoma adalah jenis kata yang biasanya menjadi pangkal pernyataan dan pembicaraan. Rhema adalah jenis kata yang biasanya dipakai untuk mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan. Jika onoma merupakan pernyataan pertama atau pernyataan utama, rhema merupakan pernyataan kedua. Secara awam atau secara mudahnya onoma ini lebih kurang dapat disejajarkan dengan kata benda, sedangkan rhema lebih kurang dapat disejajarkan dengan kata kerja atau kata sifat.
Pokok pikiran Plato tersebut kemudian dikembangkan oleh seorang muridnya yang bernama Aristoteles (384 SM – 322 SM). Aristoteles membagi jenis kata bahasa Yunani Kuno menjadi tiga golongan, yakni anoma, rhema, dan syndesmos.
Kriteria pembagian jenis kata yang dipergunakan oleh Aristoteles tidak lagi semata-mata filosofis, akan tetapi sudah mengarah sedikit ke pemikiran linguistik. Onoma sekarang ditafsirkan sebagai jenis atau golongan kata yang mengalami perubahan bentuk secara deklinatif, yaitu perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh perbedaan jenis kelamin, jumlah dan kasus. Rhema diartikan sebagai golongan kata yang mengalami perubahan secara konjugatif, yaitu perubahan bentuk kata yang disebabkan oleh perbedaan persona, jumlah, dan kala (tenses). Syndesmos adalah golongan kata yang tidak mengalami perubahan bentuk secara deklinatif maupun secara konjugatif, jadi tidak pernah mengalami perubahan bentuk oleh perbedaan apapun.
Perkembangan ilmu bahasa sampai pada masa itu memang baru terbatas sampai dengan telaah kata saja, khususnya tentang jenis kata. Tata bahasa atau gramatikal baru mulai diperhatikan pada akhir abad kedua Masehi (130 SM) oleh Dyonisius Thrax. Buku tata bahasa yang pertama disusun itu berjudul “Techne Gramatike”. Buku inilah yang kemudian menjadi anutan para ahli tata bahasa yang lain. Para ahli tata bahasa yang mengikuti Thrax ini kemudian dikenal sebagai penganut aliran tradisionalisme. Pada zaman ini pembagian jenis kata sudah mencapai delapan, yakni: (1) nomina, (2) pronomina, (3) artikel, (4) verba, (5) adverbia, (6) preposisi, (7 partisipium, dan (8) konjugasi.
Sebelum Dyonisius Thrax, pembagian jenis kata menjadi empat, yakni: (1) nomina, (2) verba, (3) artikel, dan (4) konjugasi. Pembagian ini dilakukan oleh Zeno.
Ketika bangsa Romawi menaklukkan bangsa Yunani, mereka mengoper juga cara berpikir dan pendapat-pendapat bangsa Yunani tersebut. Semua istilah bahasa Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Sistem bahasa Yunani pun dikenakan pada bahasa Latin. Pembagian jenis kata pada saat itu menjadi tujuh, yaitu (1) nomina, (2) pronomina, (3) verba, (4) adverbial, (5) preposisi, (6) partisipium, dan (7) konjugasi/konjungsio.
Pada abad pertengahan orang-orang Eropa berlomba-lomba mempelajari bahasa Latin. Status bahasa Latin pada saat itu memang sangat tinggi, sebab di samping sebagai bahasa gereja juga sebagai “Linguafranca” bagi kaum terpelajar. Di dalam bahasa Latin itulah orang melihat pengejawantahan logika dalam bentuk bahasa (tulisan). Bahasa-bahasa lain yang termasuk bahasa-bahasa asli mereka sendiri dianggap sebagai bahasa vulgar (bahasa rendahan, bahasa rakyat jelata, bahasa kasar). Setelah abad XVI barulah muncul kesadaran untuk mempelajari bahasa mereka sendiri. Bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa Perancis, dan sebagainya mulai dipelajari dan diselidiki. Akan tetapi kesemuanya itu masih tetap menggunakan kerangka bahasa Latin. Modus, kasus, tempo, infleksi, konjugasi, gender, dan sebagainya yang merupakan kaidah dalam bahasa Latin dipaksa untuk diterapkan pada bahasa-bahasa mereka. Cara tersebut berlangsung terus sampai akhir abad XIX. Pembagian jenis kata pada abad pertengahan dilakukan oleh Modistae. Ia membagi jenis kata menjadi delapan, yaitu: (1) nomina, (2) pronominal, (3) partisipium, (4) verba, (5) adverbia, (6) preposisi, (7) konjungsio, dan (8) interjeksi.
Pada zaman Renaisance pembagian jenis kata kembali menjadi tujuh, yakni: (1) nomina, (2) pronomina, (3) partisipium, (4) adverbia, (5) preposisi, (6) konjungsi, dan (7) interjeksi. Pada zaman Renaisance ini orang-orang Eropa berlomba-lomba menghidup-hidupkan kembali kebudayaan Romawi dan Yunani Kuno, termasuk juga ilmu bahasanya.
Pembagian jenis kata ini di negeri Belanda berkembang menjadi sepuluh, yaitu: (1) nomina, (2) verba, (3) pronomina, (4) adverbia, (5) adjektiva, (6) numeralia, (7) preposisi, (8) konjungsi, (9) interjeksi, dan (10) artikel. Tradisi Belanda inilah yang kemudian dikutip oleh para ahli tata bahasa tradisional di Indonesia.
Sejak zaman Yunani Kuno sampai dengan menjelang akhir abad XIX ilmu bahasa lebih banyak menggeluti kata, khususnya masalah pembagian jenis kata (part of speech). Ilmu bahasa komparatif yang juga berkembang pesat pada abad XIX hanya berhasil memperbandingkan kata-kata. Teori Leksikostatistik nya Isodore Dyen, teori Jarak Kosakatanya Herbert Guiter, dan Daftar Swadesh merupakan acuan pokok oleh para ahli ilmu bahasa Komparatif. Kecenderungan studi Komparatif ini tampaknya mulai memudar sejak akhir abad XIX.
Awal abad XX, paham baru mulai muncul. Munculnya karangan Ferdinand de Saussure yang berjudul “Cours de Linguistique Generale” (1916) merupakan angin segar bagi perkembangan ilmu bahasa modern. Bahkan secara ekstrem orang mengatakan buku tersebut (pokok pikiran de Saussure tersebut) merupakan revolusi di dalam sejarah perkembangan ilmu bahasa. Konsepnya tentang significant dan signifie merupakan kunci utama untuk memahami hakikat bahasa. Konsep lain yang ditampilkan antara lain parole, langue, dan langage, representasi grafis; serta deretan sintakmatik dan paradigmatik. Pandangan de Saussure ini kemudian berkembang menjadi suatu aliran dengan nama aliran Strukturalisme. Orang yang lebih fanatik menyebutnya Saussurian. Di bawah panji-panji strukturalisme ini linguistik modern berkembang dengan pesatnya hingga sekarang. Walaupun sekarang ini bermunculan beraneka macam aliran linguistik seperti transformationalisme, tagmemik, case grammar, relasionalisme, fungsionalisme, London, Praha, Kopenhagen, dan sebagainya; pada dasarnya semua berkembang dari strukturalisme atau setidak-tidaknya terilhami oleh aliran strukturalisme. 
Teori de Saussure ini di Eropa tidak saja menjadi anutan para ahli bahasa (linguis) akan tetapi juga menjadi anutan ahli sastra, antropologi, dan ahli-ahli bidang lain.
Pembagian jenis kata pada zaman strukturalisme tidak lagi menggunakan kriteria filosofi. Kriteria yang dipakai adalah kriteria  struktur yang meliputi struktur morfologis, struktur fraseologis, dan struktur klausal.
    
B.       PERKEMBANGAN ILMU BAHASA DI DUNIA TIMUR

Sejarah perkembangan ilmu bahasa di dunia timur dimulai dari India pada lebih kurang empat abad sebelum masehi, jadi hampir bersamaan dengan dimulainya sejarah ilmu bahasa di dunia barat (tradisi Yunani). Perkembangan bahasa di dunia timur ini ditandai dengan munculnya karya Panini yang berjudul “Vyakarana”. Buku tersebut merupakan buku tata bahasa Sansekerta yang sangat mengagumkan dunia karena pada zaman yang sedini itu telah dapat mendeskripsikan bahasa Sansekerta secara lengkap dan sangat saksama, teristimewa dalam bidang fonologinya. Sayangnya buku tersebut teramat sulit dipahami oleh orang awam. Hal itulah yang menyebabkan seorang muridnya yang bernama Patanjali terpaksa harus menyusun tafsir atau penjelasannya yang diberi judul “Mahabhasa”.
Karya Panani itu pada dasarnya disusun semata-mata berdasarkan dorongan atau motivasi religius. Para brahmana dan brahmacarin dalam mengajarkan pemahaman dan pengalaman isi kitab Veda kepada para pengikutnya tidak dilakukan secara tertulis, melainkan secara lisan. Hal tersebut dilakukan agar hal pengucapannya benar-benar mendapat perhatian. Pengucapan yang salah tidak hanya menyebabkan mantranya tidak terkabul, akan tetapi justru akan mendatangkan malapetaka. Demikianlah anggapan mereka. Dengan anggapan semacam itu mengakibatkan mereka sangat cermat dan berhati-hati di dalam pengucapan. Untuk keperluan itu maka pengucapan/sistem fonologi bahasa Sansekerta dipelajari dengan tekun. Hasilnya memang sangat mengagumkan. Huruf Devanagari yang dipakai untuk melambangkan bunyi-bunyi bahasa Sansekerta sedemikian lengkapnya. Setiap bunyi diupayakan untuk dikembangkan dengan cara khas. Di seluruh dunia tidak ada bahasa yang secermat ini sistem bunyi dan sistem tulisnya. Banyak ahli  bahasa barat yang kagum dan terperanjat setelah mengetahui bahwa tatabahasa
Sansekerta pada zaman yang sedini itu sudah memiliki deskripsi bahasa yang tidak ubahnya dengan deskripsi ahli bahasa struktural di barat pada awal abad dua puluh atau akhir abad sembilan belas. Bahkan banyak yang menilai bahwa deskripsi linguistik Panini ini merupakan deskripsi struktural yang paling cermat dan paling murni. Dengan demikian seandainya kita bandingkan antara barat dan timur dengan mengambil tarikh yang sama, maka dapat dikatakan bahwa ilmu bahasa di dunia barat tertinggal dua puluh tiga abad dari dunia timur. Sayangnya puncak strukturalisme pada saat itu terputus sama sekali dan tidak ada kelanjutannya barang sedikit pun. Hal tersebut dapat kita pahami karena motivasinya bukanlah motivasi yang sifatnya linguistis tetapi motivasi religius.

1 komentar: