Berteriak pada angin
memandang keras terik matahari
lalu mengepal tangan dengan gemetar
terdiam sejenak merasakan lintas angin yang menyapu lara
bayang kosong menyelimuti kehampaan
berontak hati menjerit nurani
tapi tak satupun yang mendengar
Mulutku terkunci
ragaku tertahan di guyur hujan
menanti pelangi menghampiri raga yang tak berjiwa
menunggu mentari yang siap menyinari mata hati
Kini batinku terusik hanyut dalam alunan keterpurukan
gelap gulitanya malam terus membuntuti
dalam sudut membeku kaku
pikirku melayang di bawa sang awan
dan kini langit dan bumi menjadi saksi bisu
ucapan semu mimpi burukku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar